Malam di Atas Menara: Kisah Kekuatan dan Penyesalan Ratu Bathsheba
Malam di Atas Menara: Kisah Kekuatan dan Penyesalan Ratu Bathsheba
Langit Konstantinopel membara jingga saat matahari terbenam di tahun 532 M. Di dalam Istana Agung, seorang perempuan berdiri di balkonis marmar, memandang kota yang sedang memberontak. Pemberontakan Nika telah memasuki hari kelima. Asap membubung dari Hippodrome, teriakan massa terdengar seperti gemuruh ombak. Tapi matanya yang berwarna abu-abu-biru itu tenang.
"Apa yang akan kau lakukan, Augusta?" tanya seorang ajudan dengan suara bergetar.
"Theodora," katanya dengan suara yang mengiris seperti pedang, "tidak akan pernah mengenakan jubah ungu penguasa hanya untuk dikubur di dalamnya."
☆
Dia lahir bukan sebagai bangsawan. Anak penjaga beruang di amfiteater, penari yang menghibur massa dengan tubuhnya, perempuan yang masyarakat sebut "pelacur terhormat". Tapi di mata seorang pemuda bernama Justinianus, dia adalah api yang tidak bisa dipadamkan.
"Aku akan menikahimu," katanya suatu malam, meskipun hukum melarang senator menikahi mantan aktris.
"Dan aku akan membuatmu menjadi Kaisar," balas Theodora. Itu bukan janji kosong.
☆
Tahun 532. Kerusuhan Nika mencapai puncaknya. Setengah kota terbakar. Pasukan pemberontak menguasai jalan-jalan. Di ruang bawah tanah istana, dewan militer berdebat.
"Kita harus lari," desak seorang jenderal. "Kapal sudah siap di pelabuhan."
Justinianus ragu. Wajahnya pucat. Saat itulah Theodora berdiri.
"Jika menyangkut keselamatan diri, aku setuju dengan pendapat bahwa kita harus pergi. Namun, seorang yang pernah mengenakan mahkota tidak boleh hidup tanpanya. Bagiku, kata 'kaisar' adalah pakaian kematian yang terbaik."
Diam menyelimuti ruangan. Kata-katanya, seperti biasa, memotong tepat ke inti. Justinianus melihatnya, dan di matanya yang sebelumnya penuh ketakutan, kini berkobar tekad. Mereka tidak akan lari.
☆
Malam itu, Theodora merencanakan strategi yang akan menjadi legenda. Dia mengirim dua jenderal paling kejam, Belisarius dan Mundus, dengan kantong emas dan perintah rahasia: "Bagi mereka yang bisa dibeli, bayarlah. Untuk yang lain, gunakan pedang."
Dia sendiri mengenakan jubah ungu kekaisaran, berdiri di balkonis menghadap Hippodrome tempat 30.000 pemberontak berkumpul.
"Lihatlah mereka!" teriak seorang pemberontak di bawah. "Perempuan pelacur itu berani menatap kita!"
Theodora tidak berkedip. Saat Belisarius dan pasukannya mengepung Hippodrome, dia memberikan isyarat. Apa yang terjadi selanjutnya dicatat sejarah sebagai salahnya pembantaian terbesar: 30.000 orang tewas dalam satu hari. Pemberontakan Nika padam.
☆
Tapi Theodora bukan hanya perempuan kejam yang haus kekuasaan. Setelah kekuasaannya aman, dia membangun:
Untuk Perempuan: Undang-undang yang melarang perdagangan perempuan, memberikan hak cerai, dan melarang pembunuhan bayi perempuan.
Untuk Yang Tersingkir: Membangun rumah sakit, biara, dan tempat perlindungan bagi mantan pelacur.
Untuk Keadilan: Menjadi pengadil terakhir yang didatangi rakyat kecil, seringkali memutuskan melawan kepentingan bangsawan.
Suatu sore, seorang ibu muda berlutut dihadapannya. "Suamiku memukuliku setiap hari, Augusta. Tapi hukum mengatakan aku tidak bisa meninggalkannya."
Theodora mengangkat wanita itu. "Hukum itu salah. Dan aku akan mengubahnya." Dan dia melakukannya.
☆
Tahun 548. Theodora terbaring sekarat karena kanker. Ruangannya penuh dengan ikon-ikon suci, tapi wajahnya masih menunjukkan keteguhan yang sama.
"Justinianus," bisiknya.
"Ada apa, sayangku?"
"Jangan biarkan mereka membalikkan hukum-hukum kita setelah aku pergi. Janji padaku."
Dia mengangguk, air mata mengalir di wajahnya yang sudah berkerut. Theodora tersenyum kecil. "Aku hanya penari dari Konstantinopel. Lihatlah betapa jauhnya kita telah melangkah."
Dia meninggal dengan mahkota masih di kepalanya.
☆
Warisan yang Berdampingan:
Di sejarah, Theodora adalah kontradiksi berjalan: Penindas pemberontak yang kejam sekaligus pelindung kaum tertindas yang visioner. Dia membantai puluhan ribu, tapi juga membela hak-hak perempuan 1.400 tahun sebelum gerakan feminisme modern.
Di Gereja Hagia Sophia yang dibangun Justinianus untuknya, mosaiknya masih ada: mengenakan jubah ungu, wajahnya sebuah misteri abadi antara kekejaman dan belas kasihan.
Sampai hari ini, sejarawan berdebat: Apakah dia monster atau pahlawan? Mungkin jawabannya adalah: dia adalah manusia seutuhnya, yang memahami bahwa di dunia yang kejam, terkadang kau harus menjadi singa sebelum bisa menjadi pelindung.
Dan di lorong-lorong tua Istanbul, beberapa orang masih berbisik: Pada malam-malam sepi, kadang terlihat bayangan perempuan dengan jubah ungu berjalan di reruntuhan Istana Agung, menjaga kota yang dulu dia selamatkan dengan darah dan visinya.
